Sekolah Impian : Sama Untuk Semua

23 Sep 2014

Hampir semua sekolah formal kujalani di sekolah milik pemerintah. Hanya saat TK dan SD saja aku bersekolah di sekolah swasta, yaitu sekolah milik Angkatan Darat. Alasan orangtuaku memilihkan TK dan SD swasta itu hanya semata-mata karena letaknya yang dekat dengan rumah.

Ada begitu banyak kenangan yang aku dapatkan sewaktu aku bersekolah di SD itu. Walau statusnya adalah sekolah milik Angkatan Darat, namun sekolah itu dibuka untuk umum. Sebenarnya tak jauh (+ 200m) dari SD ku itu, ada juga SD negeri, namun ternyata banyak juga anak-anak dari masyarakat umum (termasuk aku) yang memilih sekolah di SD swasta milik Angkatan Darat itu.

Alasan ortuku memilihkan SD itu untukku semata-mata karena jaraknya yang lebih dekat dengan rumah daripada SD negeri. Mengingat SD swasta tentu lebih banyak biaya daripada SD negeri, aku jadi bertanya-tanya apa alasan teman-temanku lain (yang juga bukan warga kompleks) mengapa memilih SD itu. Soalnya, kebanyakan teman-temanku yang lain itu bukan tergolong dari keluarga yang mampu. Profesi orang tua dari teman-temanku itu antara lain: pengemudi becak, penjual kue basah di pasar, penjaga toko roti, penjual es degan keliling, penjual mie keliling, petugas administrasi panti asuhan. Boleh dikata, mayoritas teman-temanku di SD itu justru dari kalangan menengah ke bawah.

Aku tak tahu berapa SPP di SD ku saat itu, tapi yang jelas teman-temanku dari golongan menengah ke bawah bisa ikut bersekolah di sana. Jadi, aku bayangkan SPP-nya pastilah tak terlalu mahal. Aku jadi ingat SD Muhammadiyah tempat Laskar Pelangi bersekolah yang kondisinya memprihatinkan dengan fasilitas yang juga sangat minim. Anak-anak tak mampu yang bersekolah di SD-ku dulu mendapat fasilitas lebih baik daripada anak-anak Laskar Pelangi yang bersekolah di SD Muhammadiyah.

Aku jadi ingat kisah tentang pendidikan di luar Jawa, salah satunya di SDN 006 Sebatik Tengah, Nunukan, Kalimantan Utara. Secara fisik, bangunan SDN 006 Sebatik Tengah sudah memadai, karena bangunannya sudah berdinding tembok, ada ruang guru dan perpustakaan. Yang memprihatinkan adalah kondisi tenaga pengajarnya. Guru yang berstatus PNS hanya ada 2 orang. Beberapa guru lainnya berstatus sebagai tenaga honorer, itupun hanya lulusan SMA karena tak banyak sarjana yang mau menjadi guru di sana. Selain itu, karena jarak ke Kabupaten Nunuka yang jauh membuat guru-guru disana jarang mendapat pelatihan mengajar shg metode pengajaran monoton.

Aku yakin kondisi sekolah seperti SD Muhammadiyah di Belitong dan SDN 006 Sebatik Tengah di Kalimantan Utara masih banyak ditemui di berbagai daerah di Indonesia. Tak hanya di Kalimantan, bahkan di Jawa pun masih ada kondisi sekolah seperti itu. Sudah sangat sering kita membaca dan melihat berita tentang sekolah-sekolah yang memprihatinkan seperti itu.

Berbagai berita itu membuatku punya bayangan tentang sekolah impian. Sekolah yang aku maksudkan disini adalah sekolah negeri milik pemerintah. Dalam bayanganku Sekolah Impian itu sama bagi semua. Sama dalam hal apa saja, misalnya:

  • Setiap anak -dari yang kaya sampai yang miskin- mendapat kesempatan yang sama dalam kesempatan mendapatkan pendidikan.
  • Semua anak -tak memandang pintar atau bodoh- mendapat perlakuan yang sama dari sekolah.
  • Semua sekolah -dimana pun berada di wilayah Indonesia- mempunyai fasilitas pendidikan yang sama/standar.
  • Semua sekolah -tak peduli di desa atau di kota- memiliki guru-guru yang sama kualitasnya.
  • Semua sekolah -tanpa melihat status negeri dan swasta- peduli pada multiple intelligent dan menerapkannya di sekolah.
  • Semua tenaga pendidik memiliki semangat mendidik demi cita-cita mewujudkan generasi muda yang siap menyongsong masa depan.

Sekolah Impianku ini saat ini memang belum terwujud. Gambaran tentang sekolah yang belum sama bagi semua antara lain sebagai berikut:

  • Masih banyak sekolah yang bangunannya hampir ambruk, tak memiliki ruang perpustakaan atau laboratorium yang memadai.
  • Masih banyak anak yang putus sekolah karena ketiadaan biaya.
  • Masih banyak anak yang mendapat perlakuan tak menyenangkan dari guru-gurunya karena dianggap bodoh.
  • Masih banyak sekolah yang tak mampu mengajarkan salah satu mata pelajaran yang ikut Ujian Nasional (misalnya saja Matematika) karena ketiadaan guru matematika di daerah itu.
  • Masih banyak sekolah yang mengutamakan nilai akademis semata dan mengesampingkan pengembangan karakter dan potensi anak didik.
  • Masih banyak guru yang kurang mempedulikan anak didiknya, dan hanya berfokus pada kegiatan belajar mengajarnya.

Walau banyak gambaran kondisi sekolah yang masih jauh dari bayangan sekolah impianku, namun aku punya keyakinan bahwa sekolah impianku akan terrwujud. Aku sudah melihat banyaknya upaya yang dilakukan oleh berbagai pihak (pemerintah dan swasta) untuk memperbaiki kondisi dunia pendidikan di Indonesia.

Sekarang sudah ada program SM-3T dari Dikti, Pengajar Muda dari Indonesia Mengajar dan Guru Bantu dari Sekolah Guru Indonesia yang diselenggarakan Dompet Dhuafa. Hadirnya sarjana-sarjana yang terjun ke daerah 3T (terdepan, terluar dan tertinggal) itu dapat mengatasi permasalahan seperti : jumlah tenaga pendidik yang sangat minim, kurangnya kompetensi pendidik dan distribusi pendidik yang kurang merata.

Untuk mengatasi masalah sarana, prasarana serta fasilitas pendidikan yang kurang memadai juga sudah banyak upaya yang dijalankan berbagai pihak. Upaya itu antara lain : Yayasan Pengembangan Perpustakaan Indonesia (YPPI) yang memberikan bantuan pada masyarakat berupa sarana dan bahan bacaan, Blogger Hibah Sejuta Buku (BHSB) yang membagikan buku ke berbagai pelosok daerah di Indonesia, Indonesia Menyala yang mengirimkan buku-buku ke perpustakaan di daerah penempatan para Pengajar Muda dll. Atau ada juga program pembangunan atau rehabilitasi sekolah yang dilaksanakan oleh BUMN maupun swasta.

Bagi yang tak mampu juga sudah banyak tawaran beasiswa dari pemerintah dan swasta. Misalnya saja bidik misi yaitu bantuan biaya pendidikan dari pemerintah (melalui Dikti) yang hanya ditujukan untuk calon mahasiswa tidak mampu (miskin). Ada juga Beasiswa Unggulan yang dicanangkan oleh Kemendikbud. Beasiswa super semar dari Yayasan Super Semar, Djarum Beasiswa dari Djarum Foundation dsb.

Selain itu ada juga Gerakan Indonesia Berkibar kerjasama Putera Sampoerna Foundation dengan PT HM Sampoerna Tbk. Berbeda dari gerakan yang lain, gerakan ini dirancang untuk perbaikan kualitas mengajar dan belajar melalui pelatihan dan pendampingan lanjutan langsung kepada para pendidik dan pengelola sekolah.

Berbagai upaya yang telah dilakukan berbagai pihak itu lambat laun akan mampu mewujudkan sekolah impian sama bagi semua. Semoga saja dengan dukungan pemerintahan yang baru maka harapan terwujudnya sekolah yang sama bagi semua kian nyata. Semoga pemerintah bisa memberikan pendidikan gratis bagi semua anak sampai jenjang SMA. Sedangkan biaya pendidikan ke perguruan tinggi disubsidi sehingga perguruan tinggi terbuka bagi semua. Semoga terwujud. Aamiin.

[kml_flashembed movie="http://www.youtube.com/v/qmcZpviA_wM" width="425" height="350" wmode="transparent" /]

Mommylicious #Parentingbook

Tulisan ini diikutsertakan dalam Give Away Sekolah Impian


TAGS impian pendidikan Indonesia se


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post